Dharma Santi dan Etika Demokrasi: Menjaga Harmoni di Tengah Perbedaan
|
Denpasar, Bawaslu Bali - Kehadiran Ketua Bawaslu Bali, I Putu Agus Tirta Suguna, dalam perayaan Dharma Santi dimaknai sebagai ruang refleksi yang melampaui dimensi seremonial. Momentum ini dinilai penting untuk meneguhkan kembali nilai-nilai harmoni yang menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat Bali.
Dalam pandangannya, ajaran yang dihidupkan melalui Dharma Santi, seperti pengendalian diri, ketulusan, dan penghormatan terhadap sesama, tidak hanya relevan dalam kehidupan spiritual, tetapi juga dalam menjaga ketertiban sosial di tengah keberagaman.
“Nilai-nilai yang diajarkan dalam Dharma Santi pada dasarnya adalah nilai universal. Ketika itu bisa dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, maka harmoni sosial akan terjaga dengan sendirinya,” ujarnya saat ditemui usai menghadiri kegiatan tersebut, Jumat (17/4/2026).
Ia menilai, nilai-nilai tersebut memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan berbangsa. Dalam konteks demokrasi, misalnya, kedewasaan sikap menjadi faktor penentu dalam merawat ruang publik yang sehat. Perbedaan pilihan dan pandangan, menurutnya, merupakan hal yang wajar, namun perlu disikapi dengan bijak dan penuh tanggung jawab.
“Demokrasi bukan hanya soal perbedaan pilihan, tetapi bagaimana kita menyikapi perbedaan itu dengan dewasa. Di situlah pentingnya pengendalian diri dan sikap saling menghormati,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa demokrasi tidak semata bertumpu pada sistem dan regulasi, tetapi juga pada karakter masyarakatnya. Sikap saling menghormati, tidak mudah terprovokasi, serta kemampuan menahan diri menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas kehidupan demokrasi.
Melalui Dharma Santi, ia mengajak masyarakat untuk terus merawat harmoni, tidak hanya dalam relasi spiritual, tetapi juga dalam interaksi sosial sehari-hari. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat menjadi landasan dalam membangun kehidupan yang tertib, toleran, dan berkeadaban.
Penulis dan Foto : Humas Bawaslu Bali
Editor : Humas Bawaslu Bali