Maknai Piodalan, Suguna Ajak Jajaran Bawaslu Rawat Harmoni dan Integritas
|
Jembrana, Bawaslu Bali — Setelah menempati kantor sejak 2023, Bawaslu Kabupaten Jembrana untuk pertama kalinya menggelar Upacara Dewa Yadnya atau Piodalan di Padmasana kantor setempat, Minggu (25/10/2026). Piodalan yang bertepatan dengan Purnama Sasih Kalima ini tidak hanya menjadi momentum persembahyangan bersama, tetapi juga pengingat bagi jajaran pengawas pemilu untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan spiritual, keharmonisan lingkungan kerja, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas.
Upacara yang berlangsung di Kantor Bawaslu Kabupaten Jembrana, Jalan Arjuna Nomor 2, Kelurahan Banjar Tengah, Kecamatan Negara, tersebut dihadiri Ketua Bawaslu Provinsi Bali, I Putu Agus Tirta Suguna, bersama Kepala Sekretariat Bawaslu Bali, Ida Bagus Putu Adinatha, serta pimpinan dan jajaran sekretariat Bawaslu Kabupaten Jembrana.
Dalam kesempatan tersebut, Suguna menyampaikan bahwa pelaksanaan piodalan merupakan wujud sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus kesempatan untuk melakukan introspeksi diri. Menurutnya, momentum keagamaan ini juga menjadi ruang untuk memohon keselamatan, kedamaian, dan tuntunan agar seluruh jajaran Bawaslu senantiasa diberikan kelancaran dalam menjalankan tugas pengawasan pemilu.
“Pelaksanaan piodalan ini tidak semata-mata sebagai bentuk kewajiban keagamaan, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan introspeksi diri, memperkuat sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta memohon tuntunan dan kerahayuan dalam menjalankan tugas,” ujar Suguna.
Lebih jauh, ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aspek sekala dan niskala dalam kehidupan sehari-hari. Keseimbangan tersebut, menurutnya, tidak hanya menyangkut hubungan spiritual manusia dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana nilai-nilai keagamaan diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk dalam membangun lingkungan kerja yang tertib, bersih, dan harmonis.
Aspek sekala, jelas Suguna, berkaitan dengan hal-hal yang dapat dilihat dan dilakukan secara langsung, seperti penataan lingkungan kantor, kedisiplinan, hubungan antarsesama, serta pelaksanaan pekerjaan sehari-hari. Sementara itu, aspek niskala menyangkut keharmonisan batin dan hubungan spiritual dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
“Melalui piodalan ini, kita berharap dapat memulai langkah yang lebih baik, baik secara sekala maupun niskala. Segala sesuatu perlu terus dibenahi, tidak hanya lingkungan kantor, tetapi juga sikap, perilaku, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kualitas pelaksanaan tugas dan pelayanan kita,” ungkapnya.
Pemaknaan tersebut juga berkaitan dengan filosofi Tri Hita Karana yang menempatkan keharmonisan sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Suguna menjelaskan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan melalui parhyangan, hubungan antarsesama melalui pawongan, serta hubungan dengan lingkungan melalui palemahan perlu dijaga secara beriringan.
Dalam lingkungan kerja Bawaslu, nilai parhyangan diwujudkan melalui persembahyangan dan rasa syukur, sementara pawongan tercermin dalam sikap saling menghormati, komunikasi yang baik, serta kerja sama antarsesama pegawai. Adapun palemahan berkaitan dengan tanggung jawab menjaga kebersihan, kerapian, dan kesucian lingkungan kantor, termasuk merawat Padmasana sebagai tempat suci.
Karena itu, Suguna berharap nilai-nilai tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan upacara, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan dan budaya kerja sehari-hari. Lingkungan yang tertata, hubungan kerja yang harmonis, serta kedisiplinan dalam menjalankan tanggung jawab dinilai dapat mendukung pelaksanaan tugas pengawasan pemilu yang lebih baik.
Di tengah rangkaian upacara, hujan yang turun turut mendapat perhatian Suguna. Ia memaknai hujan sebagai bagian dari anugerah alam yang menopang kehidupan, sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga keharmonisan dengan lingkungan. Dalam keyakinan Hindu, hujan dapat dimaknai sebagai simbol penyucian dan kesejukan, meskipun bukan ukuran mutlak atas restu Tuhan.
“Hujan yang turun pada saat upacara ini dapat kita sambut dengan rasa syukur dan dimaknai sebagai simbol penyucian, kesejukan, serta harapan akan datangnya kerahayuan dan keberkahan bagi kita semua,” tuturnya.
Pada akhirnya, Suguna mengajak seluruh jajaran menjadikan piodalan sebagai pengingat bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak cukup hanya diwujudkan melalui penyelesaian pekerjaan administratif. Kejujuran, ketulusan, kedisiplinan, dan tanggung jawab juga harus menjadi landasan dalam menjalankan tugas pengawasan pemilu.
“Penerapan Tri Hita Karana hendaknya tidak berhenti pada pelaksanaan upacara, tetapi menjadi pedoman dalam perilaku dan budaya kerja kita sehari-hari,” pesannya.
Rangkaian piodalan yang diawali dengan persiapan upakara dan persembahyangan bersama tersebut kemudian ditutup dengan ramah tamah.
Penulis, Foto dan Editor : Humas Bawaslu Bali