Lompat ke isi utama

Berita

Pentingnya Spirit Perjuangan Mahasiswa Untuk Berdaulat

Anggota Bawaslu Bali Gede Sutrawan menjadi narasumber dalam kegiatan Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) yang diselenggarakan oleh DPC GMNI Tabanan

Anggota Bawaslu Bali, Gede Sutrawan menjadi narasumber dalam kegiatan Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) yang diselenggarakan oleh DPC GMNI Tabanan 

Denpasar, Bawaslu Bali – Anggota sekaligus Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Provinsi Bali, Gede Sutrawan, hadir sebagai pembicara dalam kegiatan Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) yang diselenggarakan oleh DPC GMNI Tabanan bertempat di Kampus Universitas Hindu Indonesia, Sabtu (25/4).

Di hadapan para kader baru GMNI, Sutrawan memberikan materi yang bertujuan untuk menanamkan pemahaman mendalam mengenai spirit dasar perjuangan mahasiswa. Pemahaman ini mencakup kesiapan mahasiswa dalam menghadapi berbagai persoalan sosial, hingga penyadaran penuh mengenai hak untuk memilih dan dipilih.

Pemaparan tersebut sekaligus menjawab rentetan pertanyaan kritis peserta mengenai peran mahasiswa dalam iklim demokrasi, serta bagaimana agar sebuah ideologi tidak menjelma menjadi pemahaman yang sempit di lingkungan kampus maupun masyarakat luas. 

Merespons dinamika tersebut, Sutrawan menekankan pentingnya spirit perjuangan mahasiswa dalam menjaga kedaulatan hak-hak demokratis. Ia mengingatkan bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi peserta pasif dalam proses pemilihan. Lebih dari itu, mahasiswa merupakan subjek aktif yang memiliki hak penuh untuk menentukan arah kepemimpinan melalui instrumen hak memilih dan dipilih.

"Nilai-nilai demokrasi harus terus dijaga dan diperjuangkan, terutama di tengah berbagai tantangan yang berpotensi membatasi kebebasan berpendapat dan berpartisipasi," tegas Sutrawan. Dirinya juga menyoroti bahwa kesadaran kolektif dari kalangan intelektual muda ini menjadi kunci utama dalam menciptakan sistem pemilihan yang adil, transparan, dan inklusif.

Lebih jauh, ia menguraikan bahwa spirit Marhaenisme dapat dijadikan sebagai landasan perjuangan yang sangat relevan bagi kehidupan mahasiswa masa kini, utamanya melalui nilai gotong royong. Dalam konteks kekinian, Marhaenisme dipandang telah mengalami perkembangan yang lebih adaptif. 

Oleh karena itu, mahasiswa didorong untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dengan pola pikir yang mandiri, logis, dan filosofis, tanpa menanggalkan kesederhanaan yang menjadi ciri utamanya.

Selain itu, semangat gotong royong disebut sebagai manifestasi konkret dari ideologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kolaborasi antar-mahasiswa, baik dalam spektrum akademik maupun aktivitas sosial, dianggap sebagai bentuk nyata perjuangan kolektif yang berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Sebagai penutup, Sutrawan menegaskan bahwa Marhaenisme masa kini bukan lagi sebatas wacana tekstual semata. "Ini telah menjadi kerangka berpikir dan bertindak yang relevan, kritis, serta solutif dalam menghadapi berbagai dinamika sosial dan politik, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat luas," pungkasnya.

Penulis dan Foto : Humas Bawaslu Bali

Editor : Humas Bawaslu Bali

Tag
Bawasluberkolaborasi
toast

Media Sosial

news

Lokasi Bawaslu Provinsi

tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle
tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle