Lompat ke isi utama

Berita

Demokrasi Butuh Soliditas, Bawaslu Bali Mulai dari Lapangan

Ketua Bawaslu Bali, I Putu Agus Tirta Suguna saat lakukan konsolidasi demokrasi bersama dengan awak media, Jumat (20/02/2026)

Ketua Bawaslu Bali, I Putu Agus Tirta Suguna saat lakukan konsolidasi demokrasi bersama dengan awak media, Jumat (20/02/2026)

Gianyar, Bawaslu Bali - Di tengah kecenderungan publik yang makin kritis terhadap institusi negara, konsolidasi demokrasi tidak lagi cukup dilakukan lewat forum formal dan dokumen kebijakan. Di Gianyar Area Mini Soccer, Jumat (20/2/2026), Bawaslu Bali memilih melakukan konsolidasi bersama media melalui olah raga.

Kegiatan bertajuk “Jumat Sehati” itu merupakan tindak lanjut Instruksi Bawaslu RI Nomor 2 Tahun 2026 tentang Konsolidasi Demokrasi. Namun bagi Bawaslu Bali, agenda tersebut dimaknai lebih dari sekadar kepatuhan administratif. Ia diposisikan sebagai langkah memperkuat soliditas internal sekaligus membangun kembali kepercayaan publik, modal sosial yang kerap menjadi variabel paling rapuh dalam demokrasi.

Ketua Bawaslu Bali, I Putu Agus Tirta Suguna, menilai tantangan demokrasi hari ini tidak hanya berada pada aspek teknis penyelenggaraan pemilu, tetapi pada konsistensi integritas lembaga pengawas itu sendiri. “Kita perlu memperkuat sinergi dan soliditas agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga. Tanpa kepercayaan, demokrasi kehilangan fondasinya,” ujarnya yang saat itu nampak didampingi Anggotanya, I Nyoman Gede Putra Wiratma.

Dalam beberapa tahun terakhir, dinamika politik nasional memperlihatkan satu pola yang sama, publik semakin partisipatif, tetapi juga semakin skeptis. Di titik inilah penguatan kelembagaan menjadi krusial. Bawaslu, sebagai pengawas, tidak hanya dituntut tegas dalam penindakan, tetapi juga adaptif dalam membangun kedekatan sosial.

konsolidasi menjadi program berkelanjutan yang ditargetkan menyasar pemilih pemula. Bawaslu Bali membuka peluang memperluas pendekatan ini ke sekolah dan kampus sebagai bagian dari literasi kepemiluan menuju Pemilu 2029. Upaya tersebut penting mengingat generasi muda akan menjadi penentu komposisi pemilih pada siklus demokrasi berikutnya.

“Pemilih muda harus dilibatkan sejak awal, bukan hanya saat hari pemungutan suara. Mereka perlu memahami proses, bukan sekadar hasil,” kata Suguna.

Tak hanya melalui olahraga, Bawaslu Bali juga menimbang pendekatan berbasis kearifan lokal. Momentum pengerupukan menjelang Nyepi, dengan keterlibatan sekaa truna dalam pembuatan ogoh-ogoh, dinilai potensial menjadi ruang edukasi demokrasi yang lebih membumi. Pendekatan kultural ini menunjukkan kesadaran bahwa demokrasi tidak hidup di ruang steril, melainkan tumbuh dalam lanskap sosial dan tradisi masyarakatnya.

Langkah tersebut menandai pergeseran strategi komunikasi kelembagaan, dari yang semula prosedural menjadi lebih partisipatif. Dari yang berbasis instruksi menjadi berbasis kedekatan sosial. Bagi Bawaslu Bali, menjaga demokrasi bukan hanya soal memastikan tahapan berjalan sesuai aturan, tetapi juga memastikan publik merasa memiliki prosesnya.

Di tengah kontestasi politik yang kian kompleks, penguatan demokrasi memang tidak bisa menunggu momentum pemilu lima tahunan. Ia harus dirawat terus-menerus, di ruang rapat, di sekolah, di lapangan olahraga, hingga di ruang budaya masyarakat.

Karena pada akhirnya, demokrasi tidak semata-mata soal memilih, melainkan soal menjaga kepercayaan agar tetap hidup.

Penulis dan Foto : Humas Bawaslu Bali

Editor : Humas Bawaslu Bali

Tag
Bawaslubali
toast

Media Sosial

news

Lokasi Bawaslu Provinsi

tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle
tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle