Lompat ke isi utama

Berita

Pers dan Pengawas Pemilu Harus Terus Bergandeng Menjaga Kondusivitas Demokrasi

Koordinator Divisi SDMOD Bawaslu Bali, I Nyoman Gede Putra Wiratma (Nomor 2 dari Kanan) saat menghadiri HUT Radar Bali, Kamis (12/02/2026)

Koordinator Divisi SDMOD Bawaslu Bali, I Nyoman Gede Putra Wiratma (Nomor 2 dari Kanan) saat menghadiri HUT Radar Bali, Kamis (12/02/2026)

Denpasar, Bawaslu Bali — Di tengah dinamika demokrasi yang kian kompleks, kehadiran pers tidak sekadar menjadi saksi perjalanan sejarah, tetapi juga penentu arah kualitas demokrasi itu sendiri.

Momentum peringatan 25 tahun Radar Bali menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya kolaborasi antara media dan lembaga pengawas pemilu dalam menjaga iklim demokrasi yang sehat dan berintegritas.

Anggota Bawaslu Bali, I Nyoman Gede Putra Wiratma, yang menghadiri undangan peringatan tersebut pada Kamis (12/2/2026), menilai bahwa pers memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran publik, terutama dalam menghadapi tantangan disinformasi, polarisasi, dan apatisme politik.

Menurutnya, demokrasi tidak cukup dijaga hanya melalui regulasi dan prosedur elektoral. Demokrasi juga harus dirawat melalui ekosistem informasi yang jujur, berimbang, dan berpihak pada kepentingan publik.

“Pers dan Bawaslu berada pada garis yang sama: menjaga ruang publik tetap sehat. Informasi yang akurat dan pengawasan yang konsisten adalah fondasi penting agar demokrasi tidak kehilangan makna substantifnya,” ujar Wiratma pasca menghadiri Undangan tersebut.

Ia menekankan, di Bali, kondusivitas demokrasi selama ini terbangun dari tradisi dialog, kearifan lokal, serta partisipasi masyarakat yang relatif kuat. Namun, capaian tersebut tidak boleh membuat semua pihak lengah. Justru di fase pascapemilu, kerja-kerja penguatan demokrasi harus terus dilakukan.

Wiratma berharap Radar Bali, sebagai salah satu media yang telah lama tumbuh bersama masyarakat Bali, terus memainkan peran kritisnya dalam mengawal isu-isu kepemiluan dan demokrasi. Bukan hanya saat tahapan pemilu berlangsung, tetapi juga dalam masa jeda politik.

“Demokrasi tidak bekerja secara musiman. Ia membutuhkan pengawasan, pendidikan publik, dan keberanian untuk menyuarakan kebenaran setiap hari. Di sinilah peran pers menjadi sangat vital,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan komitmen Bawaslu Bali untuk terus membuka ruang kolaborasi dengan media, baik dalam hal pertukaran informasi, pendidikan politik, maupun pencegahan pelanggaran sejak dini.

“Pada akhirnya, demokrasi yang kuat lahir dari kepercayaan publik. Kepercayaan itu hanya bisa tumbuh jika pers tetap independen dan pengawasan berjalan konsisten. Karena itu, kami percaya kolaborasi antara Bawaslu dan insan pers adalah salah satu kunci utama menjaga demokrasi Indonesia, khususnya di Bali, tetap kondusif dan bermartabat,” pungkas Wiratma.

Penulis dan Foto : Humas Bawaslu Bali

Tag
Bawaslubali
toast

Media Sosial

news

Lokasi Bawaslu Provinsi

tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle
tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle