Ariyani: Ubah Mindset Pemilih Muda, Dari Sekadar Nyoblos Jadi Pengawas Kritis
|
Denpasar, Bawaslu Bali - Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Bali menyadari bahwa jeda tahapan pemilu (masa non-tahapan) bukan berarti istirahat total dalam pengawalan demokrasi. Sebaliknya, lembaga ini justru semakin menggencarkan strategi edukasi pengawasan partisipatif. Kali ini, radar sosialisasi diarahkan secara spesifik kepada generasi muda sebagai investasi krusial menyongsong Pemilu 2029.
Langkah strategis ini diambil guna membangun kesadaran kritis masyarakat dalam mengawal proses demokrasi. Publik yang teredukasi diharapkan mampu bertransformasi menjadi pengawas mandiri sekaligus agen perubahan yang efektif dalam meminimalisir potensi pelanggaran dan kecurangan sejak dini.
Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas (P2H) Bawaslu Bali, Ketut Ariyani, menegaskan bahwa pola sosialisasi kini tidak lagi bersifat pasif. Pihaknya memperluas spektrum edukasi dengan melakukan penetrasi lebih dalam ke ruang-ruang publik, mengoptimalkan kanal media sosial sebagai corong informasi, hingga menjalin dialog intensif di berbagai basis komunitas masyarakat.
Dalam diskusi penyusunan program kegiatan yang berlangsung di kantor Bawaslu Bali, Senin (9/2), Ariyani menyoroti pentingnya regenerasi pengawas partisipatif. Menurutnya, demografi pemilih pada kontestasi politik mendatang akan mengalami pergeseran signifikan.
"Anak muda adalah salah satu sasaran edukasi yang kiranya perlu dijajaki secara serius. Hal ini mengingat pada Pemilu 2029 mendatang, dominasi anak muda dan pemilih pemula diprediksi akan sangat besar," ujar Ariyani.
Srikandi Bawaslu Bali tersebut menambahkan, pendekatan kepada kaum muda tidak bisa dilakukan secara instan menjelang hari pemungutan suara saja. Penanaman pemikiran kritis mengenai pentingnya kedaulatan hak suara perlu dipupuk sejak awal. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi objek politik, melainkan subjek yang kritis dan berani bersuara jika menemukan indikasi kecurangan.
Guna memaksimalkan jangkauan, Bawaslu Bali telah merancang skema sosialisasi yang fleksibel. Ariyani mengungkapkan rencananya untuk mengombinasikan metode daring (online) maupun luring (offline). Pendekatan hibrida ini dinilai relevan dengan gaya hidup generasi muda yang lekat dengan teknologi digital, namun tetap membutuhkan ruang diskusi tatap muka yang interaktif.
Melalui perluasan jangkauan pengawasan ini, diharapkan integritas hasil pemilu mendatang dapat semakin terjaga berkat partisipasi aktif masyarakat yang cerdas dan kritis.
Penulis dan Foto : Humas Bawaslu Bali