Bukan Sekadar Komoditas Suara, Pemuda Bali Didorong Jadi Pengawas Demokrasi yang Proaktif
|
Denpasar, Bawaslu Bali - Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Bali, I Putu Agus Tirta Suguna, S.H., hadir sebagai narasumber utama dalam Seminar Pendidikan Politik bagi Generasi Muda Provinsi Bali Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kesbangpol Provinsi Bali, Rabu (24/6). Kehadiran beliau menegaskan komitmen strategis lembaga pengawas dalam mengawal integritas demokrasi, sekaligus membekali kaum muda agar menjadi pemilih yang cerdas dan kritis di tengah pesatnya dinamika politik masa kini.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Bali, Gede Suralaga, memberikan sambutan hangat sekaligus membuka acara secara resmi. "Seminar ini sangat penting sebagai upaya mempersiapkan generasi muda dalam menghadapi masa depan bangsa di tengah perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, arus globalisasi, serta dinamika sosial dan politik yang terus berkembang," tutur Gede Suralaga.
Pendidikan politik yang berkualitas bagi kaum muda ini juga digarisbawahi oleh Kepala Kesbangpol Bali sebagai pilar penting dalam mendukung visi pembangunan daerah. "Dalam konteks pembangunan daerah, pendidikan politik yang berkualitas menjadi bagian penting dalam mendukung visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru, yang esensinya menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali demi kesejahteraan berkelanjutan," imbuh Gede Suralaga.
Ia menambahkan bahwa masa depan daerah sangat bergantung pada karakter para pemegang estafet kepemimpinan yang saat ini duduk di bangku sekolah dan kuliah. "Diperlukan sumber daya manusia Bali yang unggul, berintegritas, dan memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat. Generasi muda Bali harus menjadi pelopor dalam menjaga persatuan, melestarikan budaya Bali, serta mengembangkan budaya politik yang santun, cerdas, dan bertanggung jawab," tegasnya.
Tepat setelah sambutan dari Kepala Badan Kesbangpol Bali, Ketua Bawaslu Provinsi Bali, I Putu Agus Tirta Suguna, S.H., langsung mengambil panggung utama untuk membedah peta kerawanan demokrasi di era digital secara mendalam. Beliau menyoroti bahwa kemudahan akses informasi saat ini berjalan beriringan dengan ancaman siber yang terstruktur, seperti penyebaran hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi yang menyasar psikologis pemilih muda.
Integritas moral dan pemahaman regulasi juga ditekankan oleh beliau sebagai tameng utama pemuda dari jebakan politik transaksional yang kerap bermutasi di platform digital. "Pendidikan politik ini sejatinya dibentuk untuk melahirkan karakter warga negara yang cerdas, berintegritas, serta memiliki kepedulian nyata; lewat penguatan kapasitas ini, kaum muda di Bali diharapkan mampu memahami hak dan kewajibannya secara utuh, sehingga tidak mudah dimanipulasi oleh kepentingan politik jangka pendek," tambah Suguna.
Dalam paparan substantifnya, I Putu Agus Tirta Suguna, S.H. menantang Gen Z dan milenial di Bali untuk tidak sekadar menjadi objek suara, melainkan aktor utama pengawasan partisipatif melalui gerakan *cyber-surveillance* berbasis komunitas. "Generasi muda harus jeli dalam menyaring setiap informasi di media sosial; jadikan platform digital kalian sebagai alat positif untuk mengampanyekan perdamaian, menolak politik uang, dan ikut serta mengawasi jalannya proses demokrasi," ujarnya.
Selain Ketua Bawaslu Bali, kegiatan strategis ini juga turut menghadirkan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Bali, I Dewa Agung Gede Lidartawan, serta Rektor Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar, Prof. Dr. I Ketut Sukewati Lanang Putra Perbawa, S.H., M.Hum., yang bersama-sama bertindak sebagai narasumber guna memberikan pengayaan perspektif dari sisi teknis kelembagaan pemilu dan pandangan akademis.
Usai pemaparan materi dari para tokoh tersebut, acara langsung dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Dalam sesi ini, salah satu perwakilan anak muda dari Organisasi Kepemudaan menyampaikan kegelisahan nyata generasi Z terkait dinamika digital: "Kami sering kali terjebak dalam apatisme politik karena jenuh melihat konten polarisasi dan rekam jejak elite di media sosial, sehingga kami butuh ruang edukasi yang inklusif tanpa intervensi kepentingan kelompok tertentu," ujarnya.
Seminar berskala provinsi ini diikuti secara hibrida oleh puluhan peserta dari berbagai elemen kepemudaan, termasuk perwakilan Badan Kesbangpol Kabupaten/Kota se-Bali, siswa SMA/SMK se-Bali, pengurus BEM, mahasiswa FISIP, organisasi kemahasiswaan, OKP, hingga perwakilan partai politik di Provinsi Bali. Tingginya atensi peserta dari awal hingga akhir mencerminkan besarnya ekspektasi generasi muda terhadap perubahan iklim politik yang lebih bersih.
Melalui kegiatan ini, Bawaslu Bali berharap ke depan agar seminar ini melahirkan agen perubahan (agent of change) yang konsisten bergerak di dunia digital maupun nyata. Bawaslu Bali juga menekankan bahwa melalui sinergi berkelanjutan pasca-kegiatan ini, generasi muda Bali tidak berhenti pada tataran teori, melainkan benar-benar mengaplikasikan kapasitas diri tersebut untuk menjadi pengawas partisipatif yang proaktif guna merawat kualitas demokrasi yang sehat, bersih, dan berintegritas tinggi di Provinsi Bali.
Penulis dan Foto : Humas Bawaslu Bali
Editor : Humas Bawaslu BaliBali