Peran Pers Sebagai Jembatan Informasi Kepemiluan Dalam Menyongsong Pemilu 2024
|
Denpasar, Bawaslu Bali - Kepala Bagian Penanganan Pelanggaran, Penyelesaian Sengketa Proses dan Hukum Bawaslu Bali, I Made Aji Swardhana mengungkapkan, pers merupakan jembatan informasi antara Bawaslu dengan publik. Hal tersebut disebabkan pertukaran informasi melalui media sangat dinamis dan mudah diakses oleh masyarakat luas.
"Pers sebagai jembatan informasi sangat membantu Bawaslu dalam mendistribusikan informasi penting terkait kerja-kerja pencegahan dan pengawasan pemilu," ujarnya saat menjadi narasumber dalam program Gema Pemilu TVRI Bali dengan topik Peran Pers Menyongsong Pemilu 2024, Jumat (20/10).
Dalam menghadapi Pemilu 2024, Aji memandang sinergitas antara Bawaslu dan insan pers harus terus ditingkatkan, berkaca dari pelaksanaan Pemilu 2019 yang sarat akan isu SARA dan hoaks, kehadiran pers akan menjadi filter pertama bagi publik sehingga tidak ada lagi disinformasi dan berita hoax yang sempat menyebar luas ke publik
"Sinergitas antara Bawaslu dan pers selalu terjaga dan semakin baik kedepannya, pers sebagai penjaga kebenaran dan demokrasi diharapkan mampu menjadi filter pertama dalam menyaring informasi hoax di masyarakat," kata Aji.
Menanggapi yang disampaikan Aji, Wakil Ketua Bidang Pendidikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali Arief Wibisono menjelaskan bahwa pihaknya selalu siap untuk berkolaborasi dengan Bawaslu untuk memberikan edukasi kepemiluan serta mencegah merebaknya hoaks di masyarakat.
"Kami siap menjalin sinergitas dengan Bawaslu, baik dengan pemberian edukasi kepemiluan atau sebagai filter untuk bisa menekan berbagai isu hoaks. Karena tentu kita ingin Pemilu nanti berjalan lancar dan demokratis," tutur Arief.
Terakhir Arief kemudian berpesan, dalam melakukan filterisasi berita hoaks, pers tentu tidak bisa sendiri, namun hal tersebut juga harus muncul dari kesadaran diri masing-masing, salah satu jalannya dengan melakukan kroscek kembali terhadap kebenaran informasi yang diterima.
"Dalam mengakses informasi, baik melalui media massa dan media sosial kita harus selalu bijak dan sadar, lakukan kroscek, selalu perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Sebaiknya jangan terlalu cepat percaya,"tutup Arief.