Lompat ke isi utama

Berita

Malam Perenungan di Tengah Dinamika Politik: Bawaslu Bali Gelar Persembahyangan Siwaratri

Ketua Bawaslu Bali, I Putu Agus Tirta Suguna dan Kepala Sekretariat Bawaslu Bali, Ida Bagus Putu Adinatha saat pelaksanaan Malam Perenungan di Tengah Dinamika Politik: Bawaslu Bali Gelar Persembahyangan Siwaratri Siwa Ratri di Bawaslu Bali

Ketua Bawaslu Bali, I Putu Agus Tirta Suguna dan Kepala Sekretariat Bawaslu Bali, Ida Bagus Putu Adinatha saat pelaksanaan Malam Perenungan di Tengah Dinamika Politik: Bawaslu Bali Gelar Persembahyangan Siwaratri Siwa Ratri di Bawaslu Bali

Denpasar, Bawaslu Bali - Bawaslu Bali menggelar persembahyangan bersama dalam peringatan hari suci Siwaratri yang bertempat di kantor sekretariat setempat. Momentum ini dimanfaatkan oleh seluruh jajaran pimpinan dan staf untuk menepi sejenak, melakukan kontemplasi, sekaligus memohon tuntunan dalam menjalankan tugas.

Siwaratri sendiri secara harfiah berasal dari kata Siwa yang berarti kesadaran atau kesucian, dan Ratri yang bermakna malam. Secara filosofis, Siwaratri dimaknai sebagai "Malam Siwa", sebuah momentum bagi umat Hindu untuk melakukan penyucian diri melalui jagra (begadang/menjaga kesadaran), monabrata (berdiam diri), dan upawasa (berpuasa) guna melebur kegelapan batin menuju cahaya kesadaran.

Kepala Sekretariat Bawaslu Bali, Ida Bagus Putu Adinatha, dalam penyampaiannya menekankan pentingnya mengambil hikmah dari kisah klasik Lubdaka yang menjadi ikon perayaan ini. Ia menceritakan bagaimana seorang pemburu bernama Lubdaka mampu mendapatkan tempat spesial di alam Siwa karena keteguhannya menjaga kesadaran sepanjang malam.

"Tradisi Siwaratri identik dengan kisah Lubdaka yang memanjat pohon bila (maja) dan bermalam di sana untuk menjaga diri tetap terjaga agar terhindar dari ancaman binatang buas. Intinya, ia ingin menyelamatkan diri dari bahaya melalui kewaspadaan yang luar biasa," ujar Adinatha.

Ia menambahkan, meskipun Lubdaka menjalani laku tersebut tanpa kesadaran spiritual, esensi ketulusan dan disiplin batin justru menjadi nilai utama yang mengantarkannya pada penerimaan di alam Siwa.

“Apalagi kita yang melaksanakan Siwaratri secara sadar. Ini menjadi pengingat bahwa praktik sadhana dan bhakti yang dijalankan dengan kesungguhan akan membawa dampak positif, baik secara spiritual maupun dalam pembentukan karakter pribadi,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Bawaslu Bali, I Putu Agus Tirta Suguna, memandang perayaan Maha Siwa Ratri yang jatuh sebelum Tilem Ketujuh ini sebagai momen krusial untuk evaluasi internal. Baginya, ritual ini bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan fondasi untuk memperkuat pola kerja organisasi.

"Hari ini adalah hari yang sangat utama. Pelaksanaan persembahyangan bersama ini kami tujukan sebagai ajang introspeksi dan konsolidasi. Ini adalah bentuk penguatan pola kerja kita, terutama mengingat dinamika politik saat ini yang sangat kuat dan menuntut konsentrasi tinggi," tegas Suguna.

Ia juga menjabarkan makna Siwa dari sudut pandang etimologis yang lebih dalam, di mana Siwa adalah simbol kesadaran, cinta kasih, dan pelayanan. Menurutnya, setiap insan di Bawaslu Bali sejatinya memiliki unsur "Siwa" tersebut dalam menjalankan tugasnya sebagai pelayan publik dan pengawal demokrasi.

"Ratri adalah malam perenungan. Apa yang kurang, kita evaluasi dan kita sinergikan kembali. Melalui kegiatan ini, kita ingin menanamkan cinta kasih dalam setiap langkah pengawasan, sehingga ke depan kita memiliki pola kerja yang semakin solid dan profesional," pungkasnya.

Acara yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan doa bersama, membawa harapan agar semangat Siwaratri mampu menjadi energi baru bagi Bawaslu Bali dalam menghadapi tantangan demokrasi ke depan.

Humas Bawaslu Bali

Tag
Bawaslu Bali
toast

Media Sosial

news

Lokasi Bawaslu Provinsi

tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle
tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle