Memperkuat Demokrasi, Bawaslu Diminta Dorong Transparansi dan Sosialisasi Bahaya Politik Uang
|
Buleleng, Bawaslu Bali – Upaya memperkuat demokrasi kembali ditekankan dalam pertemuan anggota Bawaslu Bali, Sutrawan, bersama anggota Bawaslu Buleleng, Ketut Adi Setiawan, dengan kelompok mahasiswa semester lima yang berasal dari berbagai provinsi dan tengah menempuh studi di Buleleng, Jumat (5/9/2025).
Dalam suasana perbincangan santai, para mahasiswa dari fakultas hukum, ekonomi, dan pendidikan menyampaikan pandangan mereka terkait praktik demokrasi. Mereka menilai penting adanya transparansi anggaran antara pemilih dengan pilihannya, sehingga masyarakat dapat melakukan evaluasi yang lebih objektif ketika diberikan hak menentukan pilihan dalam pemilu berikutnya.
Salah satu bentuk kontribusi pemikiran kritis datang dari mahasiswi Fakultas Hukum Undiksha, Hana Sybil Vania Mendrofa, yang menyerahkan sebuah artikel kepada Sutrawan sebagai sumbangan gagasan dari kalangan akademisi muda.
Para milenial tersebut juga mengangkat persoalan politik uang yang masih marak terjadi di berbagai daerah. Mereka menilai praktik pemberian uang kepada pemilih tidak hanya merusak kualitas demokrasi, tetapi juga dianggap mulai menjadi hal yang lumrah. Menurut mereka, inilah salah satu penyebab utama belum tercapainya tujuan demokrasi yang sebenarnya.
Mahasiswa dari jurusan pendidikan menambahkan, peran Bawaslu sebaiknya tidak terbatas hanya saat tahapan pemilu berlangsung. Sosialisasi mengenai bahaya politik uang, kata mereka, harus dilakukan secara lebih intensif dan berkelanjutan agar masyarakat benar-benar sadar akan dampak buruknya.
Politik uang, menurut mereka, tidak hanya memperbesar ongkos penyelenggaraan pemilu, tetapi pada akhirnya juga kembali membebani rakyat sebagai pemilih. Oleh karena itu, mereka berharap Bawaslu dapat lebih aktif mendorong transparansi dan meningkatkan kesadaran publik demi terciptanya pemilu yang lebih jujur dan demokratis.