Menuju Lembaga Terpercaya, Bawaslu Harus Penuhi 4 Poin Ini
|
Buleleng, Bawaslu Bali - Ada 4 poin yang harus dipenuhi untuk mencapai visi Bawaslu menjadi lembaga terpercaya, hal tersebut disampaikan Ketua Yayasan Visi Nusantara Maju, Yusfitriadi, saat menjadi narasumber dalam lanjutan kegiatan Rapat Fasilitasi Pengelolaan Administrasi dan Konsolidasi dalam Pengawasan Penyelenggaraan Tahapan Pemilu, di Puri Bagus Lovina Resort, Selasa (8/11).
"Untuk memenuhi visi Bawaslu menjadi lembaga terpercaya harus dimulai dengan kelembagaan yang kokoh, peran pencegahan yang partisipatif, peran pengawasan yang substantif serta kerjasama yang produktif," ujar Yus.
Yusfitriadi berpandangan, selain 4 poin tersebut, masih ada hal 3 penting yang masih perlu dinaikkan levelnya di Bawaslu, yakni pertama, tata kelola kelembagaan dimana masih ada ego sektoral pada kamar divisi, kedua, penguatan kapasitas SDM di Bawaslu, dan ketiga, performa pengawasan dan pencegahan.
"Terhadap performa pengawasan yang selama ini dilakukan Bawaslu masih bersifat administratif, desain pengawasan dan pencegahan yang dilakukan juga belum kreatif dan inovatif. Sudah saatnya Bawaslu mulai melakukan pengawasan secara investigatif," tutur Pendiri Democracy and Electoral Empowerment Partnership itu.
Lebih lanjut, Yus mengungkapkan tantangan Pemilu 2024 nantinya akan menyangkut integritas dan profesionalitas, energy penyelenggara pemilu, dominasi orientasi kekuasaan peserta pemilu, politik identis, kampanye negative dan kampanye hitam, serta transformasi digital yang cepat dan massif.
"Ini semua harus dapat diantisipasi Bawaslu, oleh sebabnya perlu ada integrasi kuat antara Bawaslu pusat sampai jajaran paling bawah," tegas pria kelahiran Bogor tersebut.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Koordinator Komite Pemilu Indonesia, Jeirry Sumampow, yang juga hadir sebagai narasumber, menyampaikan kemungkinan akan adanya kondisi Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity (VUCA), dalam Pemilu 2024.
Karena saat ini, dunia sedang dihadapkan pada kondisi terjadi perubahan skala besar (volatility), kesulitan melakukan prediksi secara akurat (uncertainty), kerumitan tantangan akibat berbagai faktor yang saling terkait (complexity), dan ketidakjelasan suatu kejadian dengan mata rantai akibatnya (ambiguity) atau yang disebut sebagai kriteria VUCA.
"VUCA merupakan kondisi dimana dunia yang berubah sangat cepat, tak terduga, dipengaruhi oleh banyak faktor yang sulit dikontrol, kebenaran dan realitas menjadi sangat subjektif," jelas Jeirry.
Melihat kondisi tersebut, Jeirry mengatakan, Bawaslu perlu menerapkan strategi yang matang sebagai langkah antisipasi, Strategi yang dapat dilakukan dengan deteksi dini: pemetaan potensi kerawanan, kolaborasi dan kerjasama, bangun kesadaran masyarakat, koordinasi dan komunikasi, penguatan kapasitas penyelenggara, mediasi, dan mitigasi.